Jumat, 23 Desember 2011

Meriam Si Jagur, Benarkah Lambang Kesuburan Suami-istri?

REP | 01 December 2011 | 20:09 100 0 Nihil

PERNAH dengar atau melihat Meriam Si Jagur? Kenapa diberi nama Si Jagur? Ternyata meriam ini memiliki sejarah panjang.  Sebelum tahun 2002 meriam berbobot 3,5 ton dengan panjang 3,81 meter itu berada di Taman Fatahillah, jauh di luar Museum Sejarah Jakarta.

Di situ tiap malam Jumat sering diziarahi orang yang percaya bahwa meriam itu mengandung berkah kesuburan bagi  pasangan yang belum memiliki keturunan. Itu lantaran di pangkal meriam tersebut terdapat kepalan seperti kepalan Bima.

Agar lebih aman dan tidak cepat rusak, maka setelah 2002 meriam itu dipindahkan ke dalam halaman Museum Sejarah Jakarta hingga sekarang.

Berbagai versi cerita misteri di balik keberadaan Meriam Si Jagur ini. Satu di antaranya seperti diceritakan mantan Kepala Dinas Museum dan Sejarah Provinsi DKI Jakarta (1990-1996), Dirman Surachmat.

“Banyak yang aneh-aneh dan cerita misteri soal Meriam Si Jagur ini,” kata Dirman, Rabu (30 Nov 2011) di sela-seal acara Gebyar Fatahillah di areal Taman Fatahillah Museum Sejarah Jakarta.  Hari itu, Dirman Surachmat sekaligus meluncurkan buku karangannya “Tapak Dalam Ingatan”.

1322744690994985210

Replika meriam Si Jagur yang disimpan di Museum Sejarah Jakarta.

13227447371419207785

Meriam Si Jagur yang disimpan di halaman Taman Fatahillah, Jakarta.

Halaman dalam museum ini menurut  Kepala Museum, dra Enny Prihantini kini sedang dibenahi agar lebih indah dan nyaman. Beberapa koleksi yang selama ini belum mendapat tempat akan dipajang di taman tersebut sejauh itu dapat dipertanggungjawabkan kelestariannya.

Menurut sejarah, meriam itu semula milik bangsa Portugis yang digunakan untuk mempertahankan Malaka dari serangan Belanda. Namun tahun 1641 Kota Malaka berhasil direbut Belanda dan meriam yang ditinggalkan itu dibawa ke Batavia dan ditempatkan di Benteng Batavia.

Namun sejak tahun 1810 meriam si Jagur tidak digunakan lagi mungkin karena terlalu berat untuk pasukan artileri Belanda.

Nama si Jagur kemungkinan karena dulu meriam itu pertama kali diletakkan di benteng Santo Jago de Barra sebelum dipindahkan ke Kota Malaka oleh Portugis.
 
CUCI MERIAM

Kepala Balai Konservasi, Drs Candiran Attahiyat mengatakan, kalau ada kegiatan konservasi di instansi yang dipimpinnya, peserta konservasi yang biasanya kalangan mahasiswa itu, juga diberikan materi teori dan praktek dengan mengkonservasi (mencuci) 4 meriam kuno di Taman Fatahillah, depan Museum Sejarah Jakarta.

Menurut Candrian, meriam itu dari abad 18, jadi lebih muda seabad dibanding meriam Si Jagur yang masih bagus di halaman dalam Museum Sejarah Jakarta.

“Pekerjaan itu disebut konservasi outdoors,” jelas Candrian. Tampak meriam 1,8 meter itu tidak mulus lagi termakan korosi. Berbeda dengan meriam Si Jagur yang masih mulus dan mengkilat. “Si Jagur dari bahan kuningan, jadi lebih awet,” tambahnya. **

Salam,
Nur Aliem Halvaima (NAH)
email: aliemhalvaima@yahoo.com
twitter: @aliemhalvaima
fb: Nur Aliem Halvaima
blog: aliemhalvaima.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar