Minggu, 02 Mei 2010




JAKARTA -- Peringatan 5 tahun tsunami di Aceh yang menewaskan 127 ribu orang, diselenggarakan Sabtu (26/12), dipusatkan di Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue, Kota Banda Aceh dihadiri Wakil Presiden Boediono. Sebuah kapal perang nampak berada di kawasan pelabuhan.

Puluhan wartawan media cetak maupun elektronik di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), juga melakukan zikir dan doa bersama, mengenang rekan mereka yang jadi korban 26 Desember 2004. Tidak jauh dari lokasi pembacaan doa, tertempel foto dan nama-nama para wartawan yang menjadi korban tsunami.

Aktivisi LSM, Linda Panisales kepada Harian Terbit, Sabtu pagi, mengharapkan peringatan 5 tahun tsunami ini bisa menjadikan para politikus tergugah mau membangun Aceh. Jadi tidak hanya sekedar seremoni, tapi bagaimana implementasinya di lapangan.

"Politikus harus mengambil peran, jangan hanya menebar pesona dan keprihatinan," kata Linda, yang pernah melakukan evaluasi pasca tsunami Aceh, didukung LSM internasional yang bergerak di bidang kesejahteraan ibu dan anak.

Warga Aceh sendiri, banyak yang tidak mau mengingat lagi bencana alam tersebut. Mereka di antaranya pesimis berapa dana dan waktu yang diperlukan untuk memulihkan ibu kota NAD itu. Khusus di Banda Aceh, setidaknya 62 ribu korban meninggal, 80 % fasilitas publik rusak berat, ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan.

"Tapi Banda Aceh bangkit lebih cepat dari yang diperkirakan. Ini karena masyarakat Aceh punya semangat pantang menyerah yang tinggi. Mereka sudah tahan uji," kata Walikota Banda Aceh, Mawardi Nurdin.

Sementara itu, Wakil Presiden Boediono mengikuti kegiatan di Ulee Lheue, setelah sebelumnya mengunjungi makam massal korban tsunami Siron Kabupaten Aceh Besar dan Lambaru, sekitar 15 kilometer dari kota Banda Aceh.

"Wakil Presiden juga dijadwalkan berkunjung ke SMP 6 Lamjabat Kota Banda Aceh untuk berdialog dengan para siswa. Setelah itu melihat pameran rehabilitasi dan rekonstruksi serta pameran payung seribu senyum anak tsunami di Museum Tsunami," lapor Tarmizi Alhagu, koresponden Harian Terbit dari Banda Aceh, Sabtu (26/12).

Kegiatan doa bersama dan zikir, juga berlangsung di beberapa tempat seperti di Masjid Lampuuk, Kabupaten Aceh Besar. Sementara Jumat (25/12) malam, puluhan wartawan larut dalam zikir dan doa bersama yang dipimpin Tgk Fakhruddin, pimpinan dayah (pesantren) Oemar Diyan yang juga ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Besar di Banda Aceh.

Doa bersama yang digelar para wartawan ini, selain memperingati kepergian 27 wartawan yang jadi korban tsunami, juga rangkaian peringatan 5 tahun tsunami berlangsung di Taman Putroe Phang. Acara berjalan khusyuk meskipun hanya ditemani cahaya obor di sekelilingnya. Hadir para jurnalis dari berbagai organisasi profesi antara lain PWI dan AJI.

Sebelum dilaksanakan zikir dan doa bersama, sejumlah wartawan menyampaikan testimoni tentang rekan mereka yang menjadi korban keganasan gelombang raya yang juga merenggut ratusan ribu korban jiwa meninggal maupun hilang.

Nurdin Hasan, seorang wartawan harian terbitan Jakarta dalam testimoninya menyampaikan bahwa 11 dari 28 wartawan yang menjadi korban tsunami di kota Banda Aceh adalah rekannya selama masih mengabdi di salah satu media lokal di Aceh.

Para wartawan yang menjadi korban musibah di penghujung Desember 2004 itu dinilainya merupakan jurnalis yang gigih dalam menggali berita dengan segala tantangan dan kondisi Aceh yang saat itu masih dirundung konflik bersenjata.

Kegiatan yang berlangsung selama sekitar dua jam itu, diakhiri dengan pembacaan puisi untuk mengenang dan membangkitkan semangat para jurnalis yang masih terus berjuang mencari kebenaran lewat berita. (aliem/tarmizi/junaedi)


0 komentar:

Posting Komentar